Logo
Masjid Jami Nurul Huda
Makmur Masjidnya Sejahtera Umatnya
image

Di kota santri yang ramai, nama Ustadz Hamzah harum disebut. Pesantren yang ia dirikan berdiri kokoh, muridnya ratusan, lembaga pendidikannya berkembang pesat. Banyak orang menilai hidupnya telah sempurna—ilmu, kedudukan, dan kecukupan dunia.


Namun, setiap kali ia berdiri di mihrab masjid megah itu, hatinya sering bergetar tanpa sebab yang jelas.


Seakan ada suara lama yang memanggil dari kejauhan.


Kampung halamannya.


Di sanalah ia dulu mengenal Allah. Di masjid kecil berdinding kayu, seorang imam tua bernama Kyai Salim dengan suara bergetar mengajarinya huruf demi huruf Al-Qur’an. Dari tangan renta itulah ia belajar bahwa ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menundukkan hati.


Kyai Salim sering mengulang satu ayat yang tak pernah hilang dari ingatan Ustadz Hamzah:



وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا



“Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

(QS. Ṭāhā: 114)


Tahun-tahun berlalu. Ustadz Hamzah sukses di perantauan, sementara kampung halaman perlahan sunyi. Masjid tua itu kini jarang terdengar adzan. Kyai Salim semakin sepuh, tak lagi kuat berdiri lama


Hingga suatu hari, sebuah pesan datang


Masjid hampir tak terurus. Kyai Salim ingin engkau pulang


Ustadz Hamzah gelisah. Di satu sisi, umat di tempatnya kini sangat bergantung padanya. Di sisi lain, ada panggilan yang lebih dalam—panggilan seorang guru yang dulu menuntunnya mengenal sujud


Malam itu, ia membuka mushaf. Pandangannya tertumbuk pada ayat:




وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ



“Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.”

(QS. Al-Baqarah: 110)


Air matanya jatuh. Ia sadar, kebaikan yang sesungguhnya mungkin bukan yang paling terlihat, tetapi yang paling dibutuhkan.


Telepon dari Kyai Salim pun datang. Suaranya lemah namun penuh harap.


“Hamzah… masjid ini sepi. Aku sudah tak sanggup lama berdiri. Aku tak punya siapa-siapa lagi… selain muridku."


Keputusan itu berat. Istrinya menangis, bukan karena menolak, tetapi karena paham betapa besar pengorbanan yang harus ditempuh.


Meninggalkan kemapanan, nama besar, dan kenyamanan—demi masjid kecil yang hampir roboh.


Namun Ustadz Hamzah teringat pesan Rasulullah ﷺ yang pernah diajarkan gurunya:




خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ



“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Aḥmad)


Akhirnya ia pulang.


Masjid tua itu kembali hidup. Adzan berkumandang tepat waktu. Anak-anak mengaji dengan suara lirih namun penuh harap. Masyarakat yang lama kehilangan arah kini menemukan penuntun.


Ustadz Hamzah berdiri sebagai imam, di tempat yang dulu mengajarkannya berdiri dalam shalat.


Beberapa bulan kemudian, Kyai Salim wafat.


Di pemakaman sederhana itu, Ustadz Hamzah teringat sabda Nabi ﷺ:



إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ



“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).


Ia tersenyum dalam tangis. Kyai Salim telah pergi, tetapi ilmunya tetap hidup—mengalir melalui murid yang kembali.

Kini Ustadz Hamzah mengerti:


Kesuksesan sejati bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa tulus kita kembali untuk memenuhi amanah orang yang pernah menuntun kita menuju Allah.