Cahaya Abadi di Masjid Tua
Di sebuah desa yang dikelilingi sawah hijau, sungai berliku, dan pepohonan rindang, berdiri sebuah masjid tua. Atapnya bocor di beberapa tempat, catnya mengelupas, dan jendela kayu berderit ketika angin malam masuk. Masjid itu sederhana, jauh dari kemegahan kota, tapi setiap bata dan kayunya memancarkan sejarah pengabdian seorang imam.
Di mihrab, Pak Ahmad, imam tua itu, duduk dengan tubuh ringkih. Rambutnya memutih, tangan gemetar saat menata sajadah. Setiap langkahnya terasa berat, namun matanya tetap bersinar dengan cahaya iman.
Puluhan tahun lalu, Pak Ahmad adalah pemuda yang bersemangat di pondok pesantren. Setiap malam ia terjaga membaca Al-Qur’an, menulis hadis, dan belajar fiqh. Suatu malam, gurunya berkata:
“Ahmad, menjadi imam bukan sekadar memimpin shalat. Kau harus menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat.”
Janji itu tertanam dalam hati Pak Ahmad. Ia bertekad suatu hari kembali ke desanya untuk mengabdi pada Allah dengan sepenuh hati.
Hari-hari Pak Ahmad di desa dipenuhi dengan kesederhanaan. Ia menyapu lantai masjid, menata sajadah, dan memanggil jamaah untuk shalat. Anak-anak kecil berlari-lari mengejarnya sambil bercanda:
“Pak Ahmad, cepat! Adzan sudah selesai, shalatnya belum!”
Pak Ahmad tersenyum, meski kakinya sakit:
“Wahai anak-anak, jangan sampai shalat kalian ketinggalan, nanti Allah marah.”
Namun ia sering termenung sendirian. Anak-anak muda yang dulu belajar di pondok kini merantau ke kota. Murid-murid yang ia didik pun pergi. Ia bertanya pada dirinya sendiri, siapa yang akan meneruskan amanah ini ketika ia tiada?
Dengan tangan gemetar, Pak Ahmad menulis surat kepada salah satu muridnya yang kini menjadi ustadz di kota:
“Anakku, aku tak lagi mampu menunaikan shalat dan mengurus masjid. Aku memohon, jadilah penggantiku. Jangan biarkan masjid ini sunyi. Ingatlah sabda Nabi ﷺ: ‘Barang siapa membangun sebuah masjid karena Allah, Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.’
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
(HR. Bukhari dan Muslim)
Beberapa hari kemudian, ustadz muda itu datang. Masjid tampak sunyi. Ia menatap wajah gurunya dengan campuran hormat dan ragu.
“Pak… masjid ini sangat berbeda dengan masjid di kota,” katanya lirih.
Pak Ahmad tersenyum lemah. “Kau akan belajar, nak. Masjid ini bukan soal megahnya bangunan, tapi ketulusan hati.”
“Pak… anak-anak muda sudah pergi semua. Bagaimana aku bisa…?” suara ustadz muda itu bergetar.
Pak Ahmad menepuk bahunya. “Ingat hadis Nabi ﷺ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
‘Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.’ (HR. Muslim)
“Cukup niat dan usaha, anakku. Allah akan menolongmu.”
Suatu malam, Pak Ahmad duduk di mihrab. Lampu minyak berkelip di sudut masjid. Suara jangkrik dan angin malam menemani heningnya. Anak-anak kecil menutup pintu masjid dan berbisik:
“Pak Ahmad… jangan tidur lama ya.”
Pak Ahmad tersenyum, menepuk kepala mereka:
“Tidurku hanyalah tidur biasa… tetap shalat dan belajar ya, anak-anak.”
Ketika fajar merekah, Pak Ahmad berbaring dengan sajadah di tangannya. Ia tersenyum lembut, mengucap:
“Ya Allah… terimalah seluruh pengabdianku…”
Dan dengan itu, ia menghembuskan napas terakhirnya. Desa menjadi sunyi, hanya suara angin dan embun pagi yang menetes di atap masjid.
Anak-anak desa menangis, memeluk satu sama lain:
“Pak Ahmad… kami akan merindukanmu selamanya.”
Seorang anak kecil berkata lirih:
“Siapa yang akan mengajari kami shalat sekarang?”
Keesokan harinya, ustadz muda itu tiba. Ia berdiri di mihrab, air mata menetes di pipinya. Anak-anak desa berkumpul, menatapnya dengan haru.
“Kami akan menjaga masjid ini seperti Pak Ahmad dulu,” kata mereka serempak.
Ustadz muda itu menunduk, menenangkan diri, lalu mengumandangkan takbir. Suara shalatnya menggema di masjid tua, membawa harapan baru. Ia mengingat pesan gurunya:
“Kalau hatimu ikhlas, Allah akan menolongmu. Jangan tunggu sempurna, cukup niat dan usaha.”
Sejak hari itu, masjid tua kembali hidup. Anak-anak belajar Al-Qur’an, warga berkumpul untuk shalat. Meski sederhana, masjid itu bersinar dengan cahaya iman.
Pak Ahmad mungkin telah tiada, tapi pengabdiannya abadi. Setiap langkah anak-anak di masjid, setiap doa yang dipanjatkan di sana, adalah cermin dari cinta seorang imam tua pada Allah. Desa itu tetap menjadi rumah-Nya, karena ketulusan hati yang diwariskan dari guru ke murid
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)
Dan cahaya Pak Ahmad tetap hidup, bukan dalam bangunan, tapi dalam hati setiap jiwa yang pernah disentuhnya.