Masjid yang Menangis Menyambut Ramadhan
Masjid itu kecil dan sederhana. Dindingnya retak, catnya mengelupas, dan lantainya dingin meski sore masih menyimpan hangat matahari. Ia berdiri di kampung yang perlahan lupa bahwa masjid bukan sekadar bangunan, melainkan tempat hati seharusnya kembali. Di kota, masjid-masjid berdiri megah dengan marmer dan cahaya lampu yang memantul indah. Di kampung ini, masjid hanya bertahan—dengan segala keterbatasannya..
Imam masjid itu bernama Pak Haji Marwan. Rambutnya telah memutih, punggungnya sedikit membungkuk, dan langkahnya tak lagi setegap dulu. Namun satu hal tak pernah berubah: setiap waktu shalat, ia selalu datang lebih awal. Kadang sendirian, kadang hanya satu saf, kadang hanya ia dan Allah. Meski jamaah semakin jarang, ia tetap membuka pintu masjid, menyalakan lampu, dan mengumandangkan azan dengan suara yang kian bergetar.
Sore terakhir bulan Sya’ban, beberapa anak muda datang ke masjid. Mereka adalah murid-murid mengaji Pak Haji dulu—yang sempat pergi, yang lama tak pulang, dan yang kini kembali dengan wajah dewasa serta rasa canggung. Mereka membersihkan masjid semampunya: menyapu lantai, menggulung karpet-karpet tua, membersihkan mimbar kayu yang hampir lapuk dimakan usia. Debu beterbangan, keringat menetes, dan tak banyak kata terucap.
Pak Haji duduk di mihrab, melipat sajadah-sajadah lama dengan tangan gemetar. Matanya menatap sajadah itu lama, seolah mengingat masa-masa ketika masjid ini dipenuhi orang-orang yang menangis dalam sujud. Dengan suara lirih, ia mengutip ayat yang selalu menjadi pegangan hidupnya:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…,” gumamnya, lalu terdiam. “Dulu, sajadah-sajadah ini basah oleh air mata orang-orang yang takut kepada Allah,” tambahnya pelan. Kini, yang sering basah hanyalah lantai masjid oleh air hujan dari atap yang bocor.
Pak Haji tetap datang ke masjid, meski lututnya sering nyeri dan napasnya semakin pendek. Dalam sujud-sujud panjangnya, ia kerap mengingat sabda Rasulullah ﷺ tentang orang yang hatinya terikat dengan masjid:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
Hadits itu hidup dalam dirinya, diamalkan tanpa sorotan, dijalani dalam sunyi.
Malam pertama Ramadhan pun tiba. Masjid tampak lebih ramai dari biasanya. Orang-orang berdatangan, sebagian masih berbisik tentang karpet yang bau dan lampu yang redup. Namun satu orang yang biasa berdiri di depan mihrab tak terlihat. Pak Haji Marwan terbaring lemah di rumahnya malam itu, dan menjelang subuh, Allah memanggilnya pulang.
Kabar wafatnya Pak Haji menyebar cepat. Masjid yang biasanya sepi mendadak penuh oleh jamaah dan tangisan. Penyesalan datang terlambat. Orang-orang baru menyadari bahwa selama ini masjid hidup karena seorang imam renta yang tak pernah meninggalkannya.
Di antara jamaah berdiri seorang lelaki dewasa. Ia adalah murid Pak Haji yang lama merantau. Bertahun-tahun ia tak pulang, terlalu sibuk mengejar dunia. Namun entah mengapa, hatinya tiba-tiba gelisah dan memaksanya kembali ke kampung halaman, seolah Allah ingin ia pulang tepat pada saat perpisahan itu terjadi.
Dengan langkah berat, ia maju ke mihrab—tempat gurunya biasa berdiri. Suaranya bergetar saat membaca ayat Al-Qur’an yang terasa seperti panggilan untuk dirinya sendiri dan semua yang hadir:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Air matanya jatuh, membasahi sajadah tua yang dulu sering disentuh oleh sujud Pak Haji. Lalu ia menengadahkan tangan, melantunkan doa dengan suara patah, mewakili hati banyak orang yang terlambat pulang kepada masjid.
Ya Allah, ampuni kami yang pergi terlalu jauh hingga pulang saat guru kami telah Engkau panggil. Ampuni kami yang sibuk menilai rumah-Mu namun lupa memakmurkannya. Terimalah amal hamba-Mu yang menjaga masjid ini dengan sisa usia dan air mata. Lapangkan kuburnya, terangilah jalannya, dan jadikan setiap sajadah tua sebagai saksi cintanya kepada-Mu. Jangan biarkan masjid-Mu sepi karena kelalaian kami. Ikatkan kembali hati kami dengannya, bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sepanjang hidup kami.
Dan di masjid kecil itu, Ramadhan datang bersama tangis, penyesalan, dan sebuah janji sunyi—agar masjid tak lagi menunggu orang-orang yang pulang terlambat.