Harapan dari Desa Cengal: Mengantar Tamu Allah dengan Doa dan Air Mata
Masjid Jami’ Nurul Huda Cengal - Pagi itu, Ahad 26 April 2026, suasana di Desa Cengal, Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan terasa berbeda. Sejak pukul 07.00 WIB, warga mulai berdatangan ke sebuah rumah sederhana yang menjadi titik kumpul kebersamaan. Bukan sekadar acara seremonial, melainkan momen penuh haru: melepas tiga warganya menuju Tanah Suci.
Di halaman rumah itu, doa dan harapan berkelindan. Tiga nama yang dipanggil untuk menunaikan rukun Islam kelima menjadi pusat perhatian sekaligus kebanggaan desa: Bapak Dodi bin Singa (56), Ibu Wari’ah binti Suyana (49), dan Ibu Imun binti Parta (70). Di usia yang tak lagi muda bagi sebagian dari mereka, panggilan itu akhirnya datang—panggilan yang telah lama dinanti.
Acara pelepasan dibuka dengan sederhana, namun sarat makna. Sekretaris Desa Cengal, Ade Somantri, S.Pd.I, yang hadir mewakili Kepala Desa, menyampaikan pesan yang tak hanya formal, tetapi juga menyentuh hati.
“Atas nama Pemerintah Desa Cengal, kami mengucapkan selamat. Ini adalah kehormatan besar—tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini,” ucapnya di hadapan warga yang menyimak dengan khidmat.
Namun lebih dari sekadar ucapan selamat, terselip doa-doa yang mengalir tulus. Harapan agar para jamaah diberi kesehatan, kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam setiap langkah perjalanan. Agar setiap rukun, wajib, dan sunnah haji dapat dijalani dengan khusyuk. Dan pada akhirnya, kembali ke tanah air dengan satu predikat yang diidamkan setiap muslim: haji mabrur.
Di balik doa-doa itu, ada pula titipan harapan dari sebuah desa kecil. Desa Cengal, dengan segala kesederhanaannya, menitipkan doa kepada para tamu Allah. Agar dari Tanah Suci nanti, mereka ikut memohonkan keberkahan untuk kampung halaman—agar tetap aman, makmur, dijauhkan dari marabahaya, dan masyarakatnya senantiasa diberi kekuatan dalam iman dan takwa.
Tangis haru mulai pecah saat doa bersama dipimpin oleh Ustadz Ahman Maulani. Suara lirih doa bersahutan dengan isak yang tak tertahan. Prosesi musafahah menjadi momen paling menggetarkan—satu per satu warga menyalami para jamaah, seolah menitipkan rindu, doa, dan harapan dalam genggaman tangan.
Sekitar pukul 08.00 WIB, langkah itu akhirnya dimulai. Dengan diiringi keluarga, kerabat, dan warga desa, ketiga jamaah diberangkatkan menuju Kuningan Islamic Center. Lambaian tangan mengiringi kepergian, sementara doa terus dipanjatkan.
Di pagi yang sederhana itu, Desa Cengal mengajarkan satu hal: bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan individu menuju Allah, tetapi juga perjalanan kolektif sebuah komunitas yang penuh cinta, harapan, dan keikhlasan.